Home Daerah

APG Bojonegoro Jadi Jembatan Pendidikan Inklusif bagi Siswa Disabilitas

by Media Rajawali - 21 September 2026, 20:38 WIB

  • Oleh : Budi Hartono 

BOJONEGORO — Program Angkutan Pelajar Gratis (APG) yang digulirkan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro tidak sekadar menghadirkan kemudahan transportasi bagi pelajar. Di balik layanan tersebut, tersimpan manfaat yang lebih luas, terutama bagi siswa penyandang disabilitas yang menempuh pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB).

Bagi siswa disabilitas dan keluarga mereka, keberadaan APG, yang juga dikenal sebagai Angkutan Pelajar (APEL) menjadi bagian penting dalam memastikan perjalanan menuju sekolah berlangsung aman, nyaman, dan teratur. Program ini sekaligus menjadi penghubung yang membantu membuka akses pendidikan secara lebih merata bagi anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus.

Manfaat tersebut dirasakan langsung oleh para pendidik di SLB PGRI Kalitidu. Dewi Rahayu, salah seorang guru di sekolah tersebut, menyampaikan apresiasinya kepada Pemerintah Kabupaten Bojonegoro atas keberlanjutan layanan angkutan pelajar gratis.

Menurut Dewi, keberadaan APG memberikan dampak nyata terhadap konsistensi kehadiran siswa di sekolah. Kemudahan akses transportasi membuat siswa dapat mengikuti kegiatan pembelajaran secara lebih teratur, sementara orang tua memperoleh kepastian bahwa anak-anak mereka memiliki sarana transportasi yang mendukung perjalanan ke sekolah.

Manfaatnya sangat besar, terutama untuk tingkat kehadiran anak-anak dan kelancaran pelayanan pendidikan di SLB PGRI Kalitidu. Kami sangat berharap program ini bisa terus berkelanjutan,” ujar Dewi.

Dukungan terhadap program tersebut juga datang dari lingkungan pendidikan umum. Kepala SMP Negeri 1 Kalitidu, Sucipto, mengungkapkan rasa syukurnya karena layanan angkutan pelajar dapat berjalan secara aman, lancar, dan tepat waktu setiap hari.

Bagi sekolah, ketepatan waktu dan keamanan transportasi bukan sekadar persoalan teknis. Kedua hal tersebut turut menentukan kesiapan siswa mengikuti proses pembelajaran sejak awal hingga kegiatan sekolah berakhir. Karena itu, keberadaan APG dinilai memberikan dukungan terhadap terciptanya aktivitas pendidikan yang lebih tertib.

Baca juga:

Cerita lain datang dari Saiful Ansor, pengemudi angkutan pelajar disabilitas asal Desa Kuncen, Kecamatan Padangan. Berada di balik kemudi, Saiful menjadi salah satu bagian dari perjalanan para siswa menuju ruang kelas setiap harinya.

Ia mengaku bangga dapat mengambil bagian dalam program tersebut. Baginya, tugas mengantar siswa bukan hanya pekerjaan, tetapi juga bentuk kontribusi terhadap keberlangsungan pendidikan anak-anak disabilitas.

Program gratis ini sangat inspiratif. Tidak cuma membantu meringankan beban orang tua, tapi juga bikin anak-anak makin semangat datang ke sekolah. Melihat mereka bisa berangkat sekolah dengan tenang ikut senang,” tutur Saiful.

Keberadaan APG dengan demikian tidak berhenti pada fungsi sebagai sarana mobilitas pelajar. Program tersebut juga menyentuh aspek sosial yang lebih mendasar, yakni memberikan kesempatan kepada anak-anak dari berbagai kondisi untuk memperoleh akses pendidikan secara lebih setara.

Bagi keluarga siswa disabilitas, transportasi yang aman dan terjangkau dapat mengurangi salah satu hambatan dalam memastikan anak tetap bersekolah. Sementara bagi sekolah, kehadiran siswa yang lebih teratur turut mendukung keberlangsungan proses pendidikan dan pelayanan pembelajaran.

Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui program APG menempatkan akses transportasi sebagai salah satu unsur pendukung pemerataan pendidikan. Khusus bagi siswa disabilitas, layanan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan lingkungan pendidikan yang lebih ramah, inklusif, aman, dan dapat dijangkau tanpa membedakan kondisi peserta didik.

Pada akhirnya, perjalanan sebuah kendaraan angkutan pelajar bukan sekadar perpindahan dari rumah menuju sekolah. Di dalamnya terdapat harapan orang tua, tanggung jawab pengemudi, dedikasi para guru, serta kesempatan bagi para siswa untuk terus belajar dan membangun masa depan.

Melalui APG, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menunjukkan bahwa pemerataan pendidikan tidak hanya berbicara tentang keberadaan sekolah dan ruang kelas, tetapi juga tentang memastikan setiap anak memiliki jalan yang layak untuk sampai ke sana.

Share :