Home Daerah

Biopori dan Pohon Jadi Strategi Warga Kendung Menjaga Cadangan Air

by Media Rajawali - 14 September 2026, 23:54 WIB

  • Oleh : Budi Hartono 

BOJONEGORO — Upaya menjaga ketersediaan air sekaligus memulihkan daya dukung lingkungan terus didorong Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Salah satunya melalui penguatan peran masyarakat dalam konservasi air dengan memanfaatkan lubang resapan biopori dan memperluas penghijauan di kawasan permukiman.

Langkah tersebut terlihat dalam kegiatan Kampanye Biopori dan Penanaman Pohon di Dusun Tobo, Desa Kendung, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro, Senin (14/9/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Program Gerakan Konservasi Air Melalui Biopori Berbasis Penguatan Kelompok Perempuan di Kabupaten Bojonegoro Tahun 2026 melalui inisiatif “Banyu Kangge Urip”. Program tersebut merupakan hasil kolaborasi ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama Yayasan Sikas Bhakti Nusantara, dengan melibatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam pelaksanaan konservasi lingkungan di tingkat desa.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bojonegoro, Luluk Alifah, mengatakan keterlibatan pemerintah daerah dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap gerakan konservasi air yang tumbuh dari masyarakat.

Menurutnya, konservasi air tidak cukup hanya dilakukan melalui kebijakan pemerintah. Upaya tersebut membutuhkan keterlibatan warga karena pengelolaan lingkungan berlangsung langsung di ruang kehidupan masyarakat, mulai dari halaman rumah, kawasan permukiman hingga lingkungan desa.

Kehadiran kami adalah bentuk dukungan nyata terhadap upaya peningkatan resapan air dan kepedulian lingkungan. Ini sekaligus menjadi bagian dari sinergi lintas sektor dalam mendorong pengelolaan lingkungan hidup yang melibatkan masyarakat secara langsung,” ujar Luluk.

Ia menambahkan, gerakan tersebut sejalan dengan upaya Pemkab Bojonegoro dalam memperkuat konservasi sumber daya air sebagaimana tertuang dalam Surat Edaran Bupati Bojonegoro Setyo Wahono yang diterbitkan pada 15 Januari 2026 dengan Nomor 800/48/412.217/2026.

Baca juga:

Dalam praktiknya, masyarakat tidak hanya diajak memahami pentingnya menjaga lingkungan, tetapi juga diperkenalkan pada langkah sederhana yang dapat diterapkan secara langsung di sekitar tempat tinggal.

Salah satunya melalui pembuatan lubang resapan biopori. Lubang berukuran relatif kecil tersebut dapat membantu memperbesar peluang air hujan masuk ke dalam tanah. Pada saat yang sama, biopori dapat dimanfaatkan untuk mengolah sampah organik sehingga memiliki manfaat ganda bagi lingkungan.

Pendekatan sederhana tersebut menjadi penting di tengah kebutuhan menjaga keseimbangan antara pemanfaatan air dan kemampuan lingkungan dalam menyimpan cadangan air secara alami.

Rangkaian kegiatan juga dilengkapi dengan penanaman pohon. Kehadiran vegetasi di kawasan permukiman diharapkan tidak sekadar memperindah lingkungan, tetapi turut memperkuat fungsi ekologis tanah melalui sistem perakaran sekaligus membantu mempertahankan kawasan resapan.

Program “Banyu Kangge Urip” juga memberikan perhatian khusus terhadap penguatan kelompok perempuan. Pelibatan tersebut menjadi bagian dari strategi untuk membangun kesadaran lingkungan dari lingkup keluarga dan komunitas, sehingga praktik konservasi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan dapat berkembang menjadi kebiasaan sehari-hari.

Dengan pendekatan berbasis komunitas, masyarakat ditempatkan bukan hanya sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai pelaku utama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan di wilayahnya.

Pemkab Bojonegoro menegaskan bahwa upaya konservasi lingkungan membutuhkan kesinambungan sekaligus kolaborasi. Pemerintah membuka ruang kerja sama dengan dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, kelompok masyarakat, hingga pemerintah desa untuk memperluas gerakan pelestarian lingkungan.

Melalui sinergi tersebut, gerakan konservasi air diharapkan mampu berkembang dari satu kegiatan di tingkat desa menjadi kesadaran kolektif yang lebih luas. Biopori, penanaman pohon, dan pengelolaan sampah organik menjadi langkah sederhana yang, apabila dilakukan secara konsisten, dapat memberikan kontribusi terhadap upaya menjaga keseimbangan ekosistem dan ketersediaan air bagi masyarakat.

Bagi Bojonegoro, menjaga air bukan semata persoalan menghadapi musim kemarau. Lebih jauh, konservasi merupakan investasi ekologis untuk memastikan tanah tetap mampu menyimpan air, lingkungan tetap hijau, dan sumber daya alam dapat diwariskan dalam kondisi yang lebih baik kepada generasi mendatang.

Share :