Home Nasional

Blora Perkuat Pertahanan Ternak, DP4 Tegaskan Kewaspadaan Meski Kasus PMK Nihil

by Media Rajawali - 08 Oktober 2025, 19:30 WIB

  • Oleh : Budi Hartono 

BLORA – Pemerintah Kabupaten Blora melalui Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan dan Perikanan (DP4) terus memperkuat kewaspadaan terhadap potensi munculnya kembali penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak. Kepala DP4 Blora, Ngaliman, S.P., M.MA., menegaskan bahwa meskipun saat ini daerahnya berstatus zero PMK, upaya pencegahan harus tetap dimaksimalkan sebagai langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas sektor peternakan.

Dalam kegiatan sosialisasi penanggulangan PMK yang digelar di Pendopo Kecamatan Randublatung, Selasa (7/10/2025), Ngaliman, yang akrab disapa Pak Alim, menyampaikan bahwa wabah PMK sebelumnya sempat menimbulkan dampak ekonomi cukup signifikan bagi para peternak di Blora.

  • “Serangan virus PMK ini sangat cepat sekali menyebarnya. Dulu kita bahkan terpaksa menutup pasar hewan untuk mencegah penyebaran agar tidak semakin meluas. Setelah satu bulan tidak ada laporan kasus PMK, pasar hewan baru bisa dibuka kembali,” ungkapnya.

Menurut Ngaliman, mayoritas masyarakat Blora menggantungkan hidup sebagai petani dan peternak. Ketika PMK merebak, harga jual hewan menurun drastis, menyebabkan banyak peternak mengalami kerugian.

  • “Adanya kasus PMK membuat peternak merugi karena harga hewan turun. Ini menjadi pelajaran penting agar kita lebih siap dalam menghadapi potensi wabah serupa,” ujarnya.

Untuk mencegah munculnya kembali kasus PMK, DP4 Blora telah menyiapkan tim kesehatan hewan terbaik yang telah mengikuti berbagai pelatihan teknis di tingkat regional maupun nasional. Para petugas juga telah melakukan program inseminasi buatan secara masif di berbagai wilayah.

Baca juga:

  • “Tenaga kesehatan hewan kita sudah terlatih dan tersebar di lapangan. Akseptor inseminasi di Blora termasuk tertinggi di Jawa Tengah, lebih dari 10 ribu. Dengan itu, kita ingin memastikan peternakan Blora tetap menjadi yang terbaik,” jelas Ngaliman.

PMK ditandai dengan gejala demam tinggi (39–41°C), hipersalivasi atau keluarnya air liur berlebihan, serta luka pada mulut, lidah, dan kuku hewan. Penularannya dapat terjadi melalui kontak langsung antarhewan, droplet, hingga peralatan dan kandang yang terkontaminasi.

DP4 Blora mengimbau para peternak untuk segera melapor jika menemukan gejala tersebut. Langkah utama yang perlu dilakukan antara lain memisahkan hewan sakit dan sehat, serta melakukan desinfeksi kandang secara rutin menggunakan cairan pemutih, pembersih lantai, atau larutan citrun.

Frekuensi desinfeksi disesuaikan dengan tingkat risiko wilayah: dua kali sehari jika terdapat kasus, sekali sehari jika dekat lokasi kasus, dua hari sekali di wilayah terpapar, dan minimal seminggu sekali di wilayah tanpa kasus.

  • “Jangan panik, jangan menjual ternak yang sakit. PMK bisa disembuhkan dengan penanganan yang tepat. Yang penting segera lapor ke petugas kesehatan hewan DP4,” imbau Ngaliman.

Selain desinfeksi, pencegahan juga dilakukan melalui vaksinasi rutin dan pemisahan pakan antara hewan sehat dan yang terinfeksi. Ngaliman menegaskan bahwa kerja sama lintas sektor menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan peternakan di Blora.

  • “Untuk saat ini, Blora zero PMK. Namun kewaspadaan jangan sampai kendor. Semua pihak harus aktif memantau kondisi hewan di lingkungannya. Ini langkah preventif agar sektor peternakan kita tetap tangguh,” tegasnya.

Kegiatan sosialisasi ini turut dihadiri oleh Camat Randublatung beserta Forkopimcam, para kepala desa dan kelurahan, serta perangkat desa se-Kecamatan Randublatung. Melalui kegiatan tersebut, pemerintah berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya biosekuriti dan kesehatan hewan dapat terus meningkat, menjaga Blora tetap bebas PMK dan siap menghadapi tantangan sektor peternakan di masa mendatang.

Share :