Home Daerah

Bojonegoro Gelar Kelas Bahasa Isyarat untuk Perluas Akses Komunikasi Inklusif

by Media Rajawali - 11 Desember 2025, 22:41 WIB

  • Oleh : Budi Hartono 

Bojonegoro – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Bojonegoro menghadirkan langkah progresif dalam mendorong inklusi sosial melalui penyelenggaraan Kelas Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) di aula Dispusip, Kamis (11/12/2025). Program ini dirancang sebagai ruang belajar yang terbuka bagi masyarakat dari beragam latar belakang, mulai dari pegawai, guru, ibu rumah tangga, hingga anak-anak, untuk memahami bahasa isyarat sebagai sarana komunikasi yang setara dan menyeluruh.

Kepala Dispusip Bojonegoro, Erick Firdaus, menegaskan bahwa pelatihan Bisindo merupakan program yang masih jarang dijumpai, namun memiliki urgensi tinggi dalam upaya memperluas akses komunikasi publik. “Kami berdiskusi bagaimana program TPBIS bisa diwujudkan melalui pelatihan bahasa isyarat. Bahasa isyarat digunakan oleh komunitas tertentu, tetapi kini juga menjadi bahasa pendamping di berbagai acara. Melihat pentingnya hal tersebut, masyarakat harus mendapatkan hak yang sama dalam komunikasi,” ujarnya.

Menurut Erick, kemampuan berbahasa isyarat tidak hanya menjadi keterampilan tambahan, tetapi juga sarana membangun kedekatan sosial dengan penyandang disabilitas. “Kita tidak pernah tahu kapan harus berkomunikasi dengan teman tuli. Dengan menguasai bahasa isyarat, kita mempermudah proses saling memahami,” tambahnya. Ia turut mengajak peserta menjadi anggota perpustakaan, baik layanan fisik maupun aplikasi E-Maos yang kini menyediakan lebih dari 3.500 judul buku digital.

Baca juga:

Kegiatan ini terselenggara melalui kolaborasi dengan Gerakan untuk Kesejahteraan Tuli Indonesia (Gerkatin) Bojonegoro. Pelatihan dipandu oleh instruktur teman dengar, Agung, dan teman tuli, Ugik, yang menghadirkan suasana kelas dinamis, komunikatif, dan penuh dukungan antarpeserta.

Sesi pembelajaran dimulai dengan pengenalan huruf abjad Bisindo. Ugik memperagakan setiap gerakan dengan ketelitian, sementara peserta mengikuti dengan penuh antusias, bahkan menunjukkan ekspresi bangga saat berhasil menirukan gerakan secara tepat. Pelatihan berlanjut pada perkenalan sederhana, kemudian permainan “copy isyarat” yang seketika menghidupkan ruangan dengan tawa dan interaksi spontan.

Dalam penjelasannya, Ugik menekankan bahwa bahasa isyarat harus dipraktikkan dengan percaya diri. “Tidak perlu malu atau ragu. Bahasa isyarat itu harus penuh ekspresi dan semangat. Jangan takut salah,” pesannya. Ia berharap kegiatan semacam ini mampu menumbuhkan lebih banyak penerjemah bahasa isyarat di Bojonegoro, mengingat saat ini jumlahnya hanya dua orang. Ia juga mengajak peserta melanjutkan pembelajaran melalui Pusbisindo atau sesi rutin yang ia gelar di Alun-Alun Bojonegoro dan kelas Dunia Imajinasi.

Melalui inisiatif ini, Dispusip Bojonegoro berupaya menjadikan perpustakaan bukan hanya sebagai rumah literasi, tetapi juga sebagai ruang tumbuhnya empati, keberagaman, dan inklusi sosial. Dengan membuka pintu bagi masyarakat untuk mempelajari Bisindo, pemerintah daerah menegaskan bahwa komunikasi adalah hak setiap individu, tanpa kecuali.

Share :