- Oleh : Budi Hartono
BOJONEGORO — Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mempercepat pembangunan embung desa sebagai bagian dari strategi jangka panjang dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian menghadapi ancaman kekeringan yang semakin sering terjadi akibat perubahan pola musim. Infrastruktur penampung air tersebut diproyeksikan menjadi fondasi penting dalam menjamin ketersediaan air irigasi, mempertahankan produktivitas lahan pertanian, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
Langkah ini menjadi semakin relevan mengingat Bojonegoro merupakan salah satu sentra produksi padi terbesar di Jawa Timur. Kabupaten ini mencatat produksi sekitar 886 ribu ton gabah per tahun, menempatkannya sebagai penghasil padi terbesar kedua di provinsi tersebut. Capaian tersebut menjadikan Bojonegoro sebagai daerah yang memiliki kontribusi strategis terhadap pasokan pangan regional maupun nasional.
Di antara wilayah penyangga produksi tersebut, Kecamatan Purwosari menjadi salah satu kawasan pertanian yang memiliki peran signifikan dengan produksi padi mencapai sekitar 14.185 ton per tahun. Namun, tingginya produktivitas itu menghadapi tantangan serius ketika musim kemarau berlangsung lebih panjang dari biasanya.
Selama ini, sebagian besar kebutuhan air pertanian di Purwosari masih bergantung pada aliran Kali Gandong dan curah hujan. Ketika debit sungai menurun serta hujan tidak kunjung turun, petani mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan air, terutama untuk lahan yang didominasi tanaman jagung dan tembakau. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan hasil panen sekaligus mengganggu stabilitas produksi pertanian.
Menjawab persoalan tersebut, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA) mengalokasikan pembangunan embung desa sebagai solusi konservasi air yang berorientasi jangka panjang. Embung dirancang untuk menampung limpasan air hujan pada musim penghujan, kemudian dimanfaatkan sebagai cadangan air ketika musim kemarau tiba.
Baca juga:
Pada tahun 2026, dua desa di Kecamatan Purwosari, yakni Desa Pojok dan Desa Punggur, menjadi lokasi prioritas pembangunan embung. Pelaksanaan konstruksi pada musim kemarau dinilai sebagai waktu yang ideal karena memungkinkan pekerjaan selesai sebelum musim penghujan datang, sehingga embung dapat langsung berfungsi menampung air secara optimal.
Camat Purwosari, Ike Widyaningrum, menegaskan bahwa pembangunan embung merupakan investasi infrastruktur yang harus diikuti dengan pengelolaan berkelanjutan oleh pemerintah desa. Menurutnya, keberadaan embung akan memberikan manfaat yang jauh lebih besar apabila dilengkapi sistem distribusi air menuju lahan pertanian.
Embung yang dibangun diharapkan tidak hanya menjadi tempat penampungan air, tetapi juga didukung jaringan pipanisasi menuju lahan pertanian sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara maksimal oleh para petani. Area di sekitar embung juga dapat ditanami tanaman produktif sebagai peneduh sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat," ujarnya.
Dukungan terhadap program tersebut juga datang dari pemerintah desa. Kepala Desa Punggur, Pasir, menyatakan pembangunan embung akan menjadi solusi penting bagi petani yang selama ini menghadapi keterbatasan pasokan air ketika musim kemarau berlangsung. Pemerintah desa, lanjutnya, berkomitmen mengembangkan jaringan pengairan agar distribusi air dari embung mampu menjangkau lebih banyak lahan pertanian.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Desa Pojok, Yudianto, yang menilai embung merupakan jawaban atas persoalan klasik yang selama bertahun-tahun dihadapi petani di wilayahnya. Dengan tersedianya cadangan air yang lebih stabil, aktivitas budidaya pertanian diharapkan dapat berlangsung lebih optimal meskipun curah hujan menurun.
Lebih dari sekadar pembangunan infrastruktur fisik, program embung desa mencerminkan upaya Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam membangun sistem pertanian yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim. Ketersediaan air yang lebih terjamin diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian, menjaga kesinambungan produksi pangan, memperkuat pendapatan petani, serta mempertahankan posisi Bojonegoro sebagai salah satu lumbung pangan utama di Jawa Timur.
Melalui pendekatan tersebut, pembangunan embung tidak hanya menjadi proyek penyediaan sarana irigasi, tetapi juga investasi strategis untuk memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan, dan memastikan sektor pertanian tetap menjadi pilar utama pembangunan daerah di masa mendatang.