Home Daerah

Bojonegoro Perkuat Regenerasi Petani Muda, Bupati Setyo Wahono Dorong Transformasi Menuju Desa Agribisnis Modern

by Media Rajawali - 09 Juli 2026, 17:27 WIB

  • Oleh : Budi Hartono 

BOJONEGORO – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menegaskan komitmennya membangun masa depan sektor pertanian melalui penguatan regenerasi petani muda yang inovatif, adaptif terhadap perkembangan teknologi, dan mampu menciptakan nilai tambah bagi perekonomian desa. Langkah tersebut dipandang sebagai fondasi penting dalam mewujudkan ketahanan pangan sekaligus mempercepat transformasi pertanian menuju sistem agribisnis modern yang berkelanjutan.

Komitmen itu disampaikan Bupati Bojonegoro Setyo Wahono saat membuka Sarasehan Tani Mandiri (SETAMAN) bertema "Berkembang Bersama Menuju Desa Agribisnis" yang diselenggarakan komunitas petani muda TANCAB (Petani Cerdas) di Desa Balenrejo, Kecamatan Balen, Kamis (9/7/2026).

Kegiatan tersebut mempertemukan petani muda, penyuluh pertanian, akademisi, pelaku usaha, serta berbagai pemangku kepentingan dalam satu forum kolaboratif untuk membahas arah pengembangan pertanian Bojonegoro di tengah tantangan perubahan iklim, dinamika pasar, serta kebutuhan pangan yang terus meningkat.

Rangkaian acara diawali dengan panen melon bersama sebagai simbol keberhasilan budidaya hortikultura yang mulai berkembang di Bojonegoro. Momentum tersebut sekaligus menunjukkan besarnya peluang diversifikasi komoditas pertanian yang memiliki nilai ekonomi tinggi apabila dikelola dengan pendekatan berbasis teknologi dan inovasi.

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Setyo Wahono juga meresmikan kegiatan melalui penandatanganan prasasti sebagai bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap penguatan ekosistem pertanian modern yang berorientasi pada peningkatan produktivitas, kesejahteraan petani, dan keberlanjutan lingkungan.

Dalam sambutannya, Setyo Wahono menegaskan bahwa sektor pangan akan menjadi kebutuhan paling strategis pada masa mendatang. Oleh karena itu, regenerasi petani harus dipersiapkan sejak dini agar Bojonegoro memiliki sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga keberlanjutan produksi pangan.

Menurutnya, paradigma lama yang memandang pertanian sebagai pekerjaan tradisional harus mulai ditinggalkan. Pertanian masa kini harus berkembang menjadi sektor agribisnis yang profesional, efisien, serta mampu menghasilkan nilai ekonomi tinggi melalui pemanfaatan teknologi, inovasi budidaya, dan pemilihan komoditas unggulan yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Ke depan, kebutuhan paling utama masyarakat adalah pangan, kemudian kesehatan. Hari ini kita sedang membangun pondasinya agar ke depan Bojonegoro mampu mewujudkan swasembada pangan. TANCAB menjadi salah satu pionir pengembangan hortikultura di Kabupaten Bojonegoro," ujar Setyo Wahono.

Baca juga:

Ia menambahkan, pemerintah daerah tidak boleh hanya berperan sebagai penyusun kebijakan dari balik meja. Kehadiran pemerintah di tengah masyarakat, khususnya para petani, dinilai menjadi syarat utama agar setiap kebijakan yang diambil benar-benar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan lapangan.

Kami ingin mengetahui kebijakan apa yang masih perlu diperbaiki. Karena itu pemerintah harus turun langsung ke lapangan agar bisa mendorong peningkatan produksi pertanian, baik sektor agro maupun non-agro," katanya.

Usai pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan dialog interaktif yang memberi ruang kepada para petani untuk menyampaikan berbagai tantangan yang mereka hadapi. Beragam persoalan mengemuka, mulai dari keterbatasan akses pembiayaan usaha agribisnis, kebutuhan penguatan pemasaran hasil pertanian, hingga proses transisi menuju sistem budidaya yang lebih ramah lingkungan melalui penggunaan pupuk organik.

Menanggapi persoalan akses permodalan, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menyatakan kesiapan membangun kolaborasi dengan berbagai lembaga keuangan, termasuk Bank Perkreditan Rakyat (BPR) serta Perumda Pangan Mandiri, guna memperluas kesempatan memperoleh pembiayaan bagi petani yang ingin mengembangkan usaha maupun meningkatkan kapasitas produksinya.

Sementara terkait penggunaan pupuk organik, Bupati menilai perubahan pola budidaya tidak dapat dilakukan secara instan. Proses transisi memerlukan tahapan yang terukur disertai edukasi dan pendampingan intensif agar petani mampu beradaptasi tanpa mengalami penurunan produktivitas.

Dalam konteks tersebut, peran Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dinilai sangat strategis sebagai mitra petani dalam mentransformasikan praktik budidaya menuju sistem pertanian yang lebih sehat, efisien, dan berkelanjutan. Selain menjaga stabilitas hasil panen, penggunaan pupuk organik secara bertahap diyakini mampu meningkatkan kualitas dan kesuburan tanah dalam jangka panjang sehingga produktivitas lahan dapat dipertahankan secara berkesinambungan.

Menutup kegiatan, Setyo Wahono kembali menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Bojonegoro untuk terus menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada petani, mulai dari penyediaan sarana produksi, penguatan akses pembiayaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga perluasan jaringan pemasaran hasil pertanian.

Melalui Sarasehan Tani Mandiri (SETAMAN), pemerintah berharap sinergi antara petani milenial, akademisi, penyuluh, pelaku usaha, dan perangkat daerah semakin solid dalam membangun ekosistem agribisnis desa yang modern, produktif, dan berdaya saing.

Dengan kolaborasi yang terus diperkuat, Bojonegoro optimistis mampu melahirkan generasi baru petani yang kreatif, mandiri, serta adaptif terhadap perkembangan teknologi. Upaya tersebut diharapkan menjadi pilar penting dalam mempercepat terwujudnya swasembada pangan, memperkuat ketahanan ekonomi pedesaan, dan meningkatkan daya saing sektor pertanian Bojonegoro di tingkat regional maupun nasional.

Share :