- Oleh : Budi Hartono
Bojonegoro — Upaya pelestarian seni dan budaya lokal kembali ditegaskan melalui penyelenggaraan Pantes Budal (Pentas Seni Budaya Lokal) Volume 2 yang digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bojonegoro bekerja sama dengan Perkumpulan Pamong Seni Budaya Bojonegoro (PPSBB), Sabtu malam (4/4/2026), di Taman Rajekwesi.
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ruang ekspresi seni, tetapi juga merupakan strategi kultural untuk menjaga kesinambungan tradisi di tengah dinamika modernisasi. Dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, khususnya generasi muda, pagelaran tersebut dirancang sebagai medium edukatif sekaligus hiburan publik yang berakar pada identitas lokal.
PPSBB sebagai organisasi profesi yang menaungi pelaku seni di Bojonegoro memainkan peran sentral dalam kegiatan ini. Organisasi tersebut menghimpun beragam cabang kesenian tradisional, mulai dari tari thengul, tari srampat, tari kayangan api, hingga kesenian tayub dan oklik, yang seluruhnya mencerminkan kekayaan ekspresi budaya daerah.
Acara yang juga disiarkan secara langsung melalui kanal resmi pemerintah daerah ini berhasil menarik perhatian luas masyarakat. Kehadiran penonton secara langsung di lokasi menunjukkan antusiasme publik terhadap pertunjukan seni tradisional, yang selama ini menghadapi tantangan regenerasi dan eksposur.
Baca juga:
Ketua PPSBB, Mochamad Bekti, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, khususnya Disbudpar dan Dinas Pendidikan, atas dukungan berkelanjutan terhadap para pelaku seni. Ia menegaskan komitmen organisasi untuk terus berkontribusi dalam mengangkat citra daerah melalui penguatan sektor kebudayaan.
Kepercayaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus berkarya dan menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga memperkuat identitas Bojonegoro sebagai daerah yang kaya budaya,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Disbudpar Bojonegoro, Elzadeba Agustina, mengungkapkan bahwa program Pantes Budal akan dijadikan agenda rutin sepanjang tahun 2026 dengan frekuensi dua pekan sekali setiap Sabtu malam. Ia juga menekankan rencana perluasan lokasi kegiatan ke berbagai wilayah di Bojonegoro agar akses terhadap seni budaya dapat dirasakan secara merata.
Pendekatan ini diharapkan mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda dalam pelestarian budaya,” kata Elza.
Selain sebagai panggung seni, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan pengukuhan PPSBB, yang diharapkan menjadi momentum penguatan kelembagaan dalam mengelola dan mengembangkan potensi budaya lokal secara lebih sistematis dan berkelanjutan.
Rangkaian pertunjukan yang ditampilkan mencerminkan keberagaman seni tradisional Bojonegoro. Pentas dibuka dengan Tari Srampat Thengul, dilanjutkan Tari Thengul, Oklik Bojonegoro, serta penampilan karawitan oleh pelajar dari SD Kemamang dan SMP Negeri 5 Bojonegoro. Selain itu, Tari Kayangan Api, Langen Beksan Tayub, hingga drama bertajuk “Ensiklopedia Budaya Bojonegoro” turut memperkaya keseluruhan narasi pertunjukan.
Melalui Pantes Budal, pemerintah daerah bersama komunitas seni berupaya membangun ekosistem kebudayaan yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. Di tengah arus globalisasi, inisiatif ini menjadi langkah strategis untuk memastikan bahwa warisan budaya lokal tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang sebagai bagian dari identitas kolektif masyarakat Bojonegoro.