Home Daerah

Ekonomi Bojonegoro Tumbuh Tipis pada Triwulan I 2026, Sektor Nonmigas Jadi Penopang Utama

by Media Rajawali - 11 Juni 2026, 20:09 WIB

  • Oleh : Budi Hartono 

BOJONEGORO — Perekonomian Kabupaten Bojonegoro pada Triwulan I Tahun 2026 mencatat pertumbuhan sebesar 0,02 persen secara tahunan (year-on-year) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski tumbuh sangat tipis, sejumlah sektor nonmigas menunjukkan kinerja positif dan menjadi penopang utama ekonomi daerah di tengah berlanjutnya penurunan kinerja sektor pertambangan dan migas.

Data yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) Bojonegoro menunjukkan bahwa jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya atau Triwulan IV Tahun 2025, ekonomi Bojonegoro mengalami pertumbuhan 2,52 persen (quarter-to-quarter). Angka tersebut mencerminkan masih adanya aktivitas ekonomi yang bergerak positif di berbagai sektor produktif meskipun sektor unggulan daerah mengalami tekanan.

Kepala BPS Bojonegoro, Syawaluddin Siregar, menjelaskan bahwa perkembangan ekonomi Bojonegoro dalam beberapa tahun terakhir masih dipengaruhi oleh fluktuasi sektor minyak dan gas bumi yang memiliki kontribusi besar terhadap struktur perekonomian daerah.

Menurutnya, kondisi tersebut terlihat jelas pada Triwulan I Tahun 2024 ketika pertumbuhan ekonomi Bojonegoro sempat mengalami kontraksi hingga minus 3,72 persen akibat penurunan lifting migas yang signifikan. Pada saat itu, pelemahan sektor pertambangan tidak mampu diimbangi oleh pertumbuhan sektor-sektor ekonomi lainnya.

Namun demikian, pada Triwulan I Tahun 2026, sejumlah sektor strategis berhasil mencatatkan pertumbuhan yang cukup kuat. Sektor pertanian tumbuh sebesar 11,38 persen, menjadi salah satu motor penggerak utama ekonomi daerah. Sementara itu, sektor perdagangan tumbuh 6,46 persen, dan industri pengolahan meningkat 5,22 persen.

Selain ketiga sektor tersebut, sektor jasa lainnya serta sektor penyediaan akomodasi dan makan minum juga mencatatkan pertumbuhan di atas 10 persen, menandakan meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat dan dunia usaha.

Meski demikian, pertumbuhan ekonomi Bojonegoro secara keseluruhan masih tertahan oleh melemahnya sektor pertambangan dan penggalian yang mengalami kontraksi hingga 8,78 persen. Kondisi ini berdampak besar mengingat sektor pertambangan masih menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bojonegoro.

Sektor pertambangan masih menyumbang sekitar 42,03 persen terhadap perekonomian Bojonegoro. Namun dalam beberapa periode terakhir kontribusinya terus mengalami penurunan," ujar Syawaluddin.

Baca juga:

Di tengah menurunnya dominasi sektor migas, struktur ekonomi Bojonegoro mulai menunjukkan perubahan yang lebih berimbang. Sektor pertanian, misalnya, terus meningkatkan perannya dalam pembentukan PDRB daerah. Jika sebelumnya kontribusi sektor ini berada di kisaran 14 persen, kini meningkat menjadi 17,1 persen.

Peningkatan kontribusi juga terlihat pada sektor perdagangan, industri pengolahan, serta konstruksi yang terus menunjukkan tren pertumbuhan positif. Fenomena tersebut menjadi indikasi bahwa perekonomian Bojonegoro mulai bergerak menuju struktur yang lebih terdiversifikasi dan tidak sepenuhnya bergantung pada sektor ekstraktif.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi juga didukung oleh meningkatnya konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah. Pada Triwulan I Tahun 2026, konsumsi rumah tangga tumbuh 6 persen, sementara Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi meningkat 5 persen.

Adapun konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan paling tinggi, yakni 20,45 persen, yang ditopang oleh pelaksanaan sejumlah program strategis, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan berbagai kegiatan pembangunan daerah lainnya.

Secara struktur ekonomi, konsumsi rumah tangga masih menjadi komponen terbesar dalam pembentukan ekonomi Bojonegoro dengan kontribusi mencapai 46,22 persen. Posisi berikutnya ditempati oleh net ekspor yang berkontribusi sebesar 29,5 persen.

Dalam konteks regional, Bojonegoro tetap memegang peran penting dalam perekonomian Jawa Timur. Kontribusi ekonomi daerah ini terhadap perekonomian provinsi mencapai 3,2 persen, menjadikannya sebagai penyumbang perekonomian terbesar kesembilan di Jawa Timur.

Syawaluddin menegaskan bahwa pertumbuhan sektor perdagangan dan transportasi yang tetap positif menunjukkan aktivitas ekonomi masyarakat masih berjalan dinamis. Meskipun sektor pertambangan mengalami penurunan, berbagai sektor lainnya mampu mempertahankan laju pertumbuhan sehingga perekonomian daerah tetap berada pada jalur positif.

Pertumbuhan ekonomi Bojonegoro memang tertahan oleh penurunan sektor pertambangan. Namun sektor-sektor lainnya menunjukkan kinerja yang baik dan terus tumbuh positif, sehingga aktivitas ekonomi masyarakat tetap bergerak," pungkasnya.

Pertumbuhan yang masih terjaga di tengah tekanan sektor migas tersebut menjadi sinyal penting bahwa transformasi struktur ekonomi Bojonegoro mulai menunjukkan hasil. Penguatan sektor pertanian, perdagangan, industri pengolahan, dan jasa diharapkan mampu menjadi fondasi baru bagi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah pada masa mendatang.

Share :