Home Pendidikan

Guru SD-SMP Bojonegoro Digembleng IoT, Dorong Transformasi Pembelajaran di Era Digital

by Media Rajawali - 25 September 2026, 17:39 WIB

  • Oleh : Budi Hartono 

BOJONEGORO – Transformasi digital di dunia pendidikan tidak lagi berhenti pada penyediaan perangkat dan akses internet. Kemampuan tenaga pendidik dalam memahami, mengoperasikan, sekaligus mengembangkan teknologi menjadi bagian penting agar digitalisasi benar-benar memberi dampak terhadap kualitas pembelajaran.

Semangat tersebut menjadi salah satu fokus dalam pelatihan Internet of Things (IoT) Digital 5.0 yang diikuti puluhan guru jenjang sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di Kabupaten Bojonegoro. Kegiatan berlangsung di Aula Ki Hajar Dewantara, Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro, Kamis (24/9/2026).

Sebanyak 43 guru mengikuti pelatihan tersebut, terdiri atas 31 guru SD dan 12 guru SMP. Mereka tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai konsep teknologi digital, tetapi juga diarahkan untuk mengenal dan mempraktikkan penerapan IoT yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari pembelajaran di sekolah.

Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Bojonegoro, Machmudin, mengatakan perkembangan teknologi harus berjalan beriringan dengan kesiapan sumber daya manusia. Dalam konteks pendidikan, guru menjadi salah satu unsur penting yang menentukan sejauh mana teknologi dapat dimanfaatkan secara efektif dan bertanggung jawab.

Transformasi digital tidak cukup hanya dengan menyediakan teknologi. Yang paling penting adalah menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menggunakan dan mengembangkannya,” kata Machmudin.

Menurutnya, generasi peserta didik saat ini tumbuh dalam lingkungan yang tidak terpisahkan dari teknologi digital. Internet telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam aktivitas belajar. Kondisi tersebut menempatkan guru bukan sekadar sebagai pengguna teknologi, melainkan juga sebagai pendamping yang membantu siswa memanfaatkannya secara aman, produktif, dan sesuai kebutuhan pendidikan.

Karena itu, Machmudin mendorong para guru untuk tidak memandang teknologi sebagai sesuatu yang sulit atau harus dihindari. Sebaliknya, perangkat digital perlu dipahami sebagai instrumen yang dapat memperluas metode pembelajaran sekaligus menciptakan pengalaman belajar yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.

Pelatihan ini memiliki tujuan untuk membantu guru merancang ekosistem digital yang aman di sekolah. Jangan takut pada teknologi dan manfaatkan alat digital dalam pembelajaran,” ujarnya.

Ia berharap keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan tidak berhenti pada ruang kegiatan. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar sehingga pemanfaatan internet dan teknologi digital memiliki arah yang jelas serta memberikan nilai tambah bagi peserta didik.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro, Anwar Mukhtadlo, menambahkan bahwa perkembangan teknologi menuntut peningkatan kompetensi pendidik secara berkelanjutan. Guru, menurutnya, perlu memiliki kemampuan untuk memahami teknologi sekaligus melihat kemungkinan penerapannya dalam kehidupan nyata.

Harapannya para guru dapat mengembangkan pembelajaran yang menghubungkan dunia digital dengan penerapan teknologi di kehidupan nyata,” ungkap Anwar.

Baca juga:

Pelatihan berlangsung selama delapan jam pelajaran dengan materi yang disusun dari aspek dasar hingga praktik. Peserta mendapatkan pemahaman mengenai konsep Internet of Things dan Society 5.0, pengenalan mikrokontroler, pemrograman IoT, serta penerapan teknologi tepat guna yang dapat dikembangkan di lingkungan sekolah.

Pemateri pelatihan, Wahyu Eko Susanto, menjelaskan bahwa peserta diperkenalkan dengan Wemos D1 Mini berbasis ESP8266. Perangkat mikrokontroler tersebut memiliki koneksi Wi-Fi terintegrasi sehingga dapat digunakan untuk mengembangkan berbagai proyek IoT yang memanfaatkan jaringan internet.

Materi kemudian diterapkan melalui praktik langsung. Salah satu proyek yang dikerjakan peserta adalah sistem kontrol lampu berbasis Telegram dengan memanfaatkan relay. Melalui sistem tersebut, perangkat dapat dikendalikan dari jarak jauh menggunakan jaringan internet.

Tidak berhenti pada pengoperasian perangkat, peserta juga dikenalkan dengan pemrograman menggunakan Arduino IDE, logika pemrograman C++, integrasi Telegram Bot, hingga desain Printed Circuit Board (PCB) 3D sederhana.

Pendekatan Project Based Learning digunakan agar peserta memperoleh pengalaman yang lebih utuh. Guru tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga mempelajari cara kerja sensor dan mikrokontroler, merakit komponen, mengunggah program, hingga menguji perangkat yang telah dibuat.

Kami juga meminta para peserta melakukan uji coba secara langsung,” jelas Wahyu.

Bagi peserta, metode tersebut memberikan pengalaman berbeda karena teknologi yang sebelumnya lebih banyak dikenal secara konseptual dapat dipelajari melalui praktik. Miftahul Huda, guru SD Negeri Nganti, Kecamatan Ngraho, menyambut positif pelatihan tersebut.

Ia menilai pengenalan IoT dan robotika dapat menjadi pintu masuk bagi sekolah untuk mulai mengembangkan pembelajaran yang lebih dekat dengan perkembangan teknologi. Pengetahuan tersebut juga dinilai dapat menjadi bekal bagi guru untuk memperkenalkan teknologi kepada peserta didik secara bertahap.

Ini awal yang bagus. Sekarang waktunya sekolah negeri mulai mengenal dan mengembangkan teknologi seperti ini,” ujarnya.

Miftahul berharap pelatihan serupa tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi dikembangkan secara berkelanjutan dengan cakupan peserta yang lebih luas. Dengan demikian, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh para guru dapat ditularkan kepada peserta didik dan berkembang menjadi bagian dari budaya pembelajaran di sekolah.

Pelatihan IoT Digital 5.0 tersebut sekaligus memperlihatkan arah pengembangan kompetensi pendidik di tengah perubahan teknologi yang semakin cepat. Bagi dunia pendidikan, tantangannya bukan semata-mata bagaimana menghadirkan teknologi ke ruang kelas, melainkan memastikan teknologi tersebut benar-benar dipahami dan mampu digunakan untuk menciptakan pembelajaran yang relevan, kreatif, aman, dan berorientasi pada kebutuhan generasi digital.

Melalui peningkatan kapasitas guru, Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro mendorong agar transformasi digital tidak berhenti sebagai wacana, tetapi berkembang menjadi praktik pembelajaran yang dapat dirasakan langsung oleh guru dan peserta didik di sekolah.

Share :