Home Daerah

Kasus Batu Ginjal di Bojonegoro Tinggi, Dokter Tekankan Deteksi Dini dan Pola Hidup Sehat

by Media Rajawali - 15 Juli 2026, 20:51 WIB

  • Oleh : Budi Hartono 

BOJONEGORO – Tingginya angka kasus batu ginjal di Kabupaten Bojonegoro menjadi perhatian serius kalangan tenaga kesehatan. Selain diduga dipengaruhi karakteristik lingkungan, seperti kandungan mineral pada air, penyakit ini juga erat kaitannya dengan faktor keturunan dan pola hidup masyarakat. Karena itu, edukasi mengenai pencegahan, deteksi dini, hingga penanganan yang tepat dinilai menjadi langkah penting untuk menekan risiko komplikasi.

Pesan tersebut mengemuka dalam program talkshow SAPA! Bojonegoro yang diselenggarakan Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Bojonegoro bekerja sama dengan RSUD Sosodoro Djatikoesoemo melalui Radio Malowopati FM, Rabu (15/7/2026).

Menghadirkan dokter spesialis urologi RSUD Sosodoro Djatikoesoemo, dr. Roy Dwi Antariksa Kristanto, diskusi yang dipandu penyiar Lia Yunita itu mengulas secara komprehensif mengenai penyakit batu ginjal, mulai dari penyebab, faktor risiko, metode pengobatan, hingga upaya pencegahan yang dapat diterapkan masyarakat.

Dalam paparannya, dr. Roy menjelaskan bahwa batu ginjal merupakan endapan mineral yang mengkristal di saluran kemih akibat gangguan tertentu sehingga tidak dapat dikeluarkan secara normal melalui urine. Kondisi tersebut dapat memicu rasa nyeri hebat, gangguan buang air kecil, hingga penurunan fungsi ginjal apabila tidak segera ditangani.

Ia mengungkapkan bahwa jumlah penderita batu ginjal di Bojonegoro tergolong tinggi. Bahkan, RSUD Sosodoro Djatikoesoemo menangani sekitar 100 tindakan operasi batu saluran kemih setiap bulan, angka yang menunjukkan masih besarnya beban penyakit tersebut di wilayah setempat.

Menurut dr. Roy, kandungan kapur atau mineral tertentu dalam air memang diduga menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap tingginya kasus batu ginjal di Bojonegoro. Namun, ia menegaskan bahwa penyebab penyakit ini bersifat multifaktorial.

Faktor lingkungan memang memiliki pengaruh, tetapi bukan satu-satunya penyebab. Riwayat keluarga serta pola hidup yang kurang sehat juga berperan besar dalam pembentukan batu ginjal," jelasnya.

Baca juga:

Karena itu, ia mendorong masyarakat untuk lebih proaktif melakukan deteksi dini melalui pemeriksaan kesehatan secara berkala. Pemeriksaan urine lengkap dan ultrasonografi (USG) dinilai efektif untuk mengetahui kondisi saluran kemih sebelum muncul gejala yang lebih berat.

Menurutnya, skrining kesehatan bahkan dapat dilakukan sejak usia muda atau sebelum menikah, mengingat batu ginjal umumnya berkembang pada usia dewasa. Langkah tersebut diharapkan mampu mendeteksi gangguan lebih awal sehingga penanganan dapat dilakukan secara lebih efektif.

Dalam aspek terapi, dr. Roy menekankan bahwa operasi bukan selalu menjadi pilihan utama. Penanganan disesuaikan dengan ukuran batu, kondisi pasien, dan tingkat keparahan penyakit.

Pilihan terapi dapat berupa perubahan pola hidup, pemberian obat-obatan, hingga tindakan Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL), yaitu prosedur pemecahan batu menggunakan gelombang kejut tanpa operasi terbuka.

Apabila tindakan operasi diperlukan, perkembangan teknologi kedokteran telah menghadirkan prosedur yang jauh lebih aman dan minim invasif. RSUD Sosodoro Djatikoesoemo, lanjutnya, telah menggunakan teknologi endoskopi yang dipadukan dengan laser sehingga tidak memerlukan sayatan besar seperti metode konvensional.

Operasi batu ginjal saat ini dilakukan dengan teknik minimal invasif. Proses pemulihan menjadi lebih cepat dan sebagian besar pasien sudah dapat kembali ke rumah dalam satu hingga dua hari apabila kondisi pascaoperasi berjalan baik," ujarnya.

Di sisi lain, pencegahan tetap menjadi strategi paling efektif untuk menekan risiko terbentuknya batu ginjal. Masyarakat dianjurkan memenuhi kebutuhan cairan tubuh dengan mengonsumsi sekitar 1,5 hingga 2 liter air putih setiap hari, rutin berolahraga, serta menjaga aktivitas fisik agar metabolisme tubuh tetap optimal.

Menurut dr. Roy, batu ginjal yang masih berukuran kecil memiliki peluang untuk keluar secara alami apabila didukung kecukupan cairan dan aktivitas fisik yang baik.

Melalui edukasi kesehatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan ginjal semakin meningkat. Penerapan pola hidup sehat, pemeriksaan kesehatan secara rutin, serta deteksi dini diharapkan mampu menurunkan angka kejadian batu ginjal sekaligus mencegah munculnya komplikasi yang dapat mengganggu kualitas hidup masyarakat.

Share :