Home Daerah

Kolaborasi Pemerintah, Dunia Usaha, dan Masyarakat Lahirkan Inovasi Berkelanjutan di Bojonegoro

by Media Rajawali - 02 Juli 2026, 12:57 WIB

  • Oleh : Budi Hartono 

BOJONEGORO – Sinergi antara pemerintah daerah, sektor industri, dan masyarakat terus menunjukkan hasil nyata dalam mendorong pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Bojonegoro. Berbagai program pemberdayaan masyarakat yang mengedepankan pengelolaan lingkungan, optimalisasi potensi lokal, serta penguatan ekonomi kreatif kini berkembang menjadi model pembangunan yang tidak hanya meningkatkan kesejahteraan warga, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan.

Salah satu contoh keberhasilan tersebut hadir di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem. Melalui pendampingan PT Pertamina EP Cepu (PEPC), Bank Sampah Mandiri Keluarga Harapan (BSMKH) berhasil mengembangkan Green House Anggur, sebuah kawasan budidaya sekaligus wisata edukasi petik anggur yang kini menjadi salah satu ikon baru pemberdayaan masyarakat di Bojonegoro.

Program tersebut lahir dari kolaborasi Pemerintah Desa Sendangharjo, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, dan PT Pertamina EP Cepu dalam mengoptimalkan lahan pekarangan warga. Tidak hanya menghasilkan komoditas pertanian bernilai ekonomi tinggi, program ini juga mengintegrasikan pengelolaan sampah berbasis masyarakat sebagai bagian dari konsep ekonomi sirkular.

Ketua BSMKH, Mas Ujang, menjelaskan bahwa Green House Anggur dibangun dengan prinsip keberlanjutan. Sampah rumah tangga yang dikumpulkan warga diolah menjadi pupuk organik untuk menunjang pertumbuhan tanaman anggur. Sebagian limbah lainnya dimanfaatkan sebagai energi terbarukan, sementara sistem bank sampah juga menjadi sarana pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), sehingga memberikan manfaat ekonomi sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan.

Green House Anggur membudidayakan berbagai varietas anggur premium dari sejumlah negara, di antaranya Everest dari Amerika Serikat, Ilaria dari Italia, Pottergistrum dari Austria, Malika, Cherny Crystal, dan Gosvi dari Rusia, serta Basanti dari India. Keberagaman varietas tersebut tidak hanya menjadi daya tarik wisata petik anggur, tetapi juga menjadi media edukasi bagi petani dan masyarakat untuk mempelajari teknik budidaya anggur unggulan yang memiliki prospek pengembangan di Bojonegoro.

Saat menghadiri panen raya sekaligus petik perdana anggur pada Rabu (1/7/2026), Ketua TP PKK Kabupaten Bojonegoro, Cantika Wahono, menyampaikan apresiasi atas keberhasilan kolaborasi lintas sektor tersebut.

Menurutnya, Green House Anggur menjadi bukti bahwa sinergi antara pemerintah desa, pemerintah kecamatan, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, dan PT Pertamina EP Cepu mampu menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat ekonomi, sosial, sekaligus lingkungan bagi masyarakat.

Baca juga:

Hari ini kita menyaksikan panen anggur di Desa Sendangharjo. Ini menjadi contoh baik bagaimana kolaborasi dan pendampingan yang berkelanjutan mampu membawa BSMKH dikenal hingga tingkat internasional," ujar Cantika Wahono.

Ia berharap keberhasilan Desa Sendangharjo dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Bojonegoro dalam mengembangkan program serupa, khususnya melalui pengelolaan sampah dan pemanfaatan lahan pekarangan sebagai sumber ekonomi baru yang berkelanjutan.

Keberhasilan pemberdayaan masyarakat di Bojonegoro tidak hanya terlihat pada sektor pertanian dan lingkungan. Di bidang ekonomi kreatif, kisah sukses juga ditunjukkan oleh Afida Batik, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang dirintis Nur Afida sejak mengikuti program pemberdayaan perempuan yang diinisiasi ExxonMobil pada 2015.

Berawal dari pelatihan keterampilan dan pendampingan usaha, Afida Batik berkembang menjadi salah satu pelaku industri kreatif yang konsisten mengangkat identitas budaya Bojonegoro melalui ragam motif khas daerah.

Nur Afida mengatakan peningkatan kapasitas produksi dan perluasan jaringan pemasaran menjadi faktor penting dalam perkembangan usahanya. Selain menjalankan bisnis batik, aktivitasnya sebagai pengajar turut memperluas relasi dan membuka peluang pasar yang lebih luas.

Afida Batik menghadirkan beragam motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya Bojonegoro, seperti Kayangan Api, daun jati, hingga berbagai potensi sumber daya alam daerah. Di antara seluruh koleksi, motif Kayangan Api menjadi produk unggulan yang paling diminati karena merepresentasikan salah satu destinasi wisata ikonik Kabupaten Bojonegoro.

Meskipun permintaan batik mengalami fluktuasi mengikuti musim, terutama menjelang tahun ajaran baru, usaha tersebut mampu mencatatkan omzet rata-rata antara Rp15 juta hingga Rp20 juta setiap bulan.

Keberhasilan Green House Anggur BSMKH maupun Afida Batik menunjukkan bahwa program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan secara berkelanjutan mampu menciptakan inovasi, memperkuat ekonomi kerakyatan, sekaligus mendorong pelestarian lingkungan.

Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat diharapkan terus menjadi fondasi pembangunan daerah yang mampu mengoptimalkan potensi lokal, menciptakan peluang ekonomi baru, memperluas lapangan kerja, serta mewujudkan Bojonegoro sebagai daerah yang semakin maju, mandiri, sejahtera, dan berkelanjutan.

Share :