Home Daerah

Menjaga Warisan Sedulur Sikep, Ngangsu Kawruh Samin Hidupkan Nilai Luhur dalam Satu Dekade Samin Festival

by Media Rajawali - 21 Juni 2026, 11:12 WIB

  • Oleh : Budi Hartono 

BOJONEGORO — Semangat menjaga warisan budaya dan kearifan lokal kembali mengemuka melalui kegiatan Ngangsu Kawruh Samin yang menjadi bagian dari peringatan Satu Dekade Samin Festival #10 Tahun 2026. Digelar di halaman Balai Budaya Samin, Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, Sabtu (20/6), kegiatan tersebut menghadirkan akademisi, mahasiswa, pegiat budaya, guru, pemerhati Samin, hingga masyarakat umum dalam suasana hangat yang sarat nilai persaudaraan.

Mengusung tema “Sabare Dieling-eling, Trokale Dilakoni”, forum tersebut menjadi ruang refleksi bersama untuk menggali, memahami, serta merawat ajaran dan nilai luhur Sedulur Sikep yang telah diwariskan secara turun-temurun selama lebih dari satu abad. Kegiatan dibuka dengan penampilan kesenian Oklik khas Bojonegoro yang menambah semarak suasana. Kesenian tradisional tersebut telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada 2025 dan menjadi simbol kekayaan budaya yang terus dijaga keberlangsungannya.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Sadari, menegaskan bahwa kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari sejarah yang melahirkannya. Menurutnya, setiap tradisi merupakan hasil perjalanan panjang masyarakat yang terbentuk melalui dinamika dan strategi budaya yang berkembang dari generasi ke generasi.

Kalau berbicara mengenai kebudayaan, tentu tidak bisa dilepaskan dari sejarah. Kegiatan ini mengingatkan kita bahwa apa yang hadir hari ini merupakan buah dari perjalanan panjang masyarakat dalam membangun identitas budayanya,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro, Lukiswati. Ia menilai suasana yang hangat, teduh, dan penuh kekeluargaan selama kegiatan berlangsung menjadi cerminan bahwa nilai-nilai yang diwariskan Sedulur Sikep masih hidup dan tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Menurutnya, kekuatan ajaran Samin terletak pada kemampuannya bertahan bukan hanya sebagai warisan sejarah, tetapi sebagai pedoman hidup yang diwujudkan dalam keseharian masyarakat. Nilai kejujuran, kesederhanaan, kerja keras, serta penghormatan terhadap sesama menjadi fondasi yang terus ditanamkan lintas generasi.

Dalam kesempatan yang sama, Lukiswati juga menyampaikan rasa syukur atas pengakuan Bojonegoro sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark. Ia menjelaskan bahwa aspek budaya menjadi salah satu elemen penting dalam penilaian kawasan geopark bertaraf dunia tersebut.

Menurutnya, kunjungan tim penilai internasional dari Jerman dan Tiongkok yang dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat akan menjadi momentum penting untuk memperkenalkan budaya Samin kepada masyarakat global sekaligus memperkuat citra Bojonegoro sebagai wilayah yang kaya akan warisan budaya dan kearifan lokal.

Baca juga:

Semoga momentum ini dapat semakin mengangkat nama Bojonegoro dan memperkenalkan budaya Samin kepada dunia internasional,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa budaya Samin telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda sejak 2019. Pada 2026, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro kembali mengusulkan tradisi Gumbregan untuk memperoleh pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda tingkat nasional.

Ini merupakan bentuk penghormatan kepada para leluhur sekaligus upaya menjaga identitas budaya yang menjadi kekuatan masyarakat Bojonegoro,” tambahnya.

Sementara itu, Bambang Sutrisno, generasi kelima keturunan Samin Surosentiko, menjelaskan bahwa esensi ajaran Samin tetap terjaga meskipun kehidupan masyarakat terus mengalami perkembangan. Menurutnya, perubahan yang terjadi lebih banyak tampak pada aspek fisik dan infrastruktur, sementara nilai-nilai utama yang diwariskan para leluhur tetap menjadi pijakan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia mencontohkan perubahan yang terjadi di Dusun Jepang yang kini telah memiliki akses jalan beton dan paving, jauh berbeda dibandingkan masa lalu ketika sarana infrastruktur masih sangat sederhana. Namun modernisasi tersebut, kata dia, tidak mengikis prinsip-prinsip yang menjadi inti ajaran Sedulur Sikep.

Bambang juga mengisahkan pesan yang diwariskan Samin Surosentiko mengenai makna kemerdekaan sejati, yakni ketika pemimpin dan rakyat menjalankan hak dan kewajiban masing-masing dengan penuh tanggung jawab. Ajaran tersebut menekankan pentingnya bekerja keras, menanam kebaikan, serta menghormati hak milik orang lain.

Ajaran Samin mengajarkan untuk menjauhi perbuatan buruk. Dahulu, perlawanan terhadap penjajahan dilakukan tanpa kekerasan, melainkan melalui keteguhan sikap dan perilaku yang berlandaskan prinsip,” tuturnya.

Dari semangat perjuangan damai itulah lahir sebutan Sedulur Sikep, yang merepresentasikan masyarakat yang menjunjung tinggi persaudaraan, tidak membedakan sesama, serta mempertahankan nilai-nilai kebenaran melalui cara-cara yang bermartabat.

Melalui kegiatan Ngangsu Kawruh Samin dalam peringatan satu dekade Samin Festival, sejarah perjuangan, ajaran luhur, dan kekayaan budaya Sedulur Sikep kembali diperkenalkan kepada masyarakat luas. Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak cepat, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa warisan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu untuk dikenang, melainkan identitas kolektif yang harus dipahami, dirawat, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Dengan demikian, Samin Festival tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga ruang untuk meneguhkan kembali nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan, dan kebijaksanaan lokal yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat Bojonegoro serta bagian penting dari mozaik kebudayaan Indonesia.

Share :