- Oleh : Budi Hartono
BOJONEGORO – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Bojonegoro memperkuat upaya mitigasi bencana melalui pelatihan penyusunan dokumen Enhanced Vulnerability and Capacity Assessment (E-VCA) dan pemetaan risiko bencana. Program yang digelar di Aula Unit Donor Darah (UDD) PMI Kabupaten Bojonegoro, Senin (6/7/2026), ini menjadi bagian dari strategi membangun ketangguhan masyarakat dalam menghadapi ancaman banjir Sungai Bengawan Solo.
Kegiatan yang dibuka Ketua PMI Kabupaten Bojonegoro, Ninik Susmiati, tersebut merupakan implementasi program kesiapsiagaan bencana banjir yang mendapat dukungan dari PMI bersama Australian Red Cross. Pelatihan dirancang untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengenali potensi risiko sekaligus menyusun langkah mitigasi berbasis kebutuhan dan kondisi lokal.
Koordinator Program, Wahyu Theo Alfian, menjelaskan bahwa pelatihan akan berlangsung selama satu pekan dengan fokus pada dua wilayah yang kerap menghadapi ancaman banjir, yakni Desa Sumbangtimun, Kecamatan Trucuk, dan Desa Mulyorejo, Kecamatan Balen.
Menurutnya, pendekatan E-VCA menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam proses identifikasi ancaman, kerentanan, serta kapasitas yang dimiliki lingkungan setempat. Melalui metode partisipatif tersebut, warga diajak memetakan berbagai potensi risiko sekaligus menginventarisasi sumber daya yang dapat dimanfaatkan saat terjadi bencana.
Hasil dari proses ini akan menjadi landasan dalam menyusun rencana aksi prioritas untuk mengurangi tingkat kerentanan serta mengelola risiko bencana secara lebih efektif," ujar Wahyu.
Baca juga:
Ia menambahkan, penyusunan dokumen E-VCA tidak hanya menghasilkan data pemetaan risiko, tetapi juga menjadi acuan dalam merancang program pengurangan risiko bencana yang lebih terukur dan berkelanjutan di tingkat desa.
Sementara itu, Ketua PMI Kabupaten Bojonegoro, Ninik Susmiati, menegaskan bahwa pelatihan tersebut merupakan bagian dari komitmen PMI dalam membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana, khususnya banjir yang setiap tahun berpotensi terjadi akibat luapan Sungai Bengawan Solo.
Ninik mengapresiasi dukungan pemerintah dan seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, hasil pelatihan akan ditindaklanjuti melalui berbagai program pengurangan risiko bencana yang disesuaikan dengan kondisi wilayah sasaran.
Peserta nantinya diharapkan mampu mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di tengah masyarakat sehingga kesiapsiagaan menghadapi bencana semakin meningkat," katanya.
Melalui pelibatan aktif masyarakat dalam setiap tahapan identifikasi hingga penyusunan rencana aksi, PMI Bojonegoro berharap terbentuk sistem kesiapsiagaan yang lebih kuat di tingkat komunitas. Dengan demikian, potensi dampak sosial, ekonomi, maupun korban jiwa akibat banjir Bengawan Solo dapat ditekan melalui langkah mitigasi yang terencana dan berbasis partisipasi warga.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Pengurus PMI Kabupaten Bojonegoro Bidang Sumber Daya Manusia, Djamari, serta Kepala Markas PMI Kabupaten Bojonegoro, Nur Hamid. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut menjadi wujud sinergi dalam memperkuat kapasitas daerah menghadapi ancaman bencana yang berpotensi terjadi setiap musim penghujan.