Home Daerah

TP PKK Bojonegoro Dorong Kemandirian Keluarga Berbasis Data, Sampah hingga GAYATRI Jadi Perhatian

by Media Rajawali - 11 Agustus 2026, 21:59 WIB

  • Oleh : Budi Hartono 

BOJONEGORO – Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Bojonegoro terus memperkuat peran kader dan masyarakat sebagai bagian penting dalam mendukung program prioritas pemerintah daerah.

Upaya tersebut dilakukan melalui Kunjungan Kerja Terpadu dan Pembinaan Administrasi TP PKK Kabupaten Bojonegoro Tahun 2026 yang berlangsung di Desa Semenkidul, Kecamatan Sukosewu, Selasa (11/8/2026).

Kegiatan tidak sekadar menjadi agenda pembinaan administratif. Rombongan TP PKK Kabupaten Bojonegoro juga melihat secara langsung berbagai praktik baik yang telah berkembang di tengah masyarakat, mulai dari pengelolaan sampah, penguatan ekonomi keluarga, pengembangan pangan lokal, hingga program kemandirian keluarga melalui Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri (GAYATRI).

Ketua TP PKK Kabupaten Bojonegoro, Cantika Wahono, mengatakan kunjungan tersebut menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat pengkaderan di tingkat desa.

Kegiatan ini untuk silaturahmi, melihat langsung praktik baik yang ada di Semenkidul dan mempererat pengkaderan kita,” ujar Cantika.

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam kunjungan tersebut adalah pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Menurut Cantika, sampah merupakan persoalan yang muncul setiap hari dan membutuhkan keterlibatan masyarakat sejak dari sumbernya. Bahkan, aktivitas publik seperti Car Free Day (CFD) juga menghasilkan volume sampah yang cukup besar.

Namun, apabila dipilah dan dikelola dengan baik, sebagian sampah tersebut tidak selalu berakhir sebagai limbah. Sampah yang memiliki nilai ekonomi dapat dikumpulkan, dimanfaatkan kembali, bahkan dikembangkan menjadi produk kerajinan.

Pilah sampah yang bernilai ekonomi. Tentu setiap hari ada sampah, dan pada saat CFD juga banyak sampah. Di sini ada MAPAK (Emak-emak Berdampak) yang mengelola sampah. Ini bisa kita inisiasi dari sampah rumah tangga dan dikembangkan menjadi kerajinan,” jelasnya.

Keberadaan komunitas MAPAK di Desa Semenkidul menjadi salah satu contoh bahwa pengelolaan sampah dapat dikembangkan tidak hanya sebagai upaya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga sebagai bagian dari pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Cantika juga menyampaikan hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) X TP PKK sekaligus sejumlah arah program prioritas Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.

Ia menegaskan bahwa transformasi gerakan PKK kini diarahkan agar semakin berbasis data. Pendekatan tersebut dinilai penting agar program pemberdayaan tidak sekadar berjalan secara administratif, tetapi benar-benar menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.

Data mengenai jumlah anak stunting, anak tidak sekolah, pernikahan dini, hingga kondisi keluarga dapat menjadi pijakan untuk menentukan bentuk intervensi yang tepat.

Transformasi gerakan PKK bekerja sesuai data. Misalnya berapa anak stunting, anak putus sekolah, pernikahan dini, dan lainnya. Selain itu, kita juga melakukan penguatan kelembagaan PKK agar administrasinya tertib,” tambah Cantika.

Dengan pendekatan berbasis data, kader PKK diharapkan mampu mengenali persoalan di wilayah masing-masing secara lebih akurat. Data tersebut kemudian dapat menjadi dasar untuk menyusun prioritas kegiatan dan mengukur dampak program yang telah dijalankan.

Penguatan ketahanan keluarga juga menjadi bagian penting dalam kunjungan tersebut. Salah satunya melalui program GAYATRI (Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri).

Sekretaris II TP PKK Kabupaten Bojonegoro, Anita Andik Sudjarwo, memberikan materi mengenai pengembangan program tersebut.

Baca juga:

Ia menjelaskan bahwa GAYATRI memiliki pendekatan yang berbeda dari pola bantuan pada umumnya. Program ini diarahkan sebagai gerakan kemandirian keluarga sehingga masyarakat tidak semata-mata menjadi penerima bantuan, tetapi mampu mengembangkan potensi secara mandiri.

Harapannya dapat mengurangi angka kemiskinan di Bojonegoro. PKK turut andil dalam mendukung suksesnya program Pemkab. Maka terinisiasi program pengembangan GAYATRI. Bedanya, pengembangan GAYATRI ini merupakan program mandiri, bukan bantuan, guna meningkatkan gizi keluarga,” terang Anita.

Melalui kepemilikan ayam petelur secara mandiri, keluarga diharapkan dapat memiliki sumber pangan bergizi sekaligus peluang ekonomi. Telur yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumsi keluarga, sementara kelebihan produksi berpotensi menjadi sumber pendapatan.

Konsep tersebut menempatkan GAYATRI bukan sekadar sebagai program peternakan, melainkan bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan, pemenuhan gizi, dan kemandirian ekonomi keluarga.

Selain pengelolaan sampah dan GAYATRI, Desa Semenkidul juga menunjukkan sejumlah inovasi berbasis potensi lokal.

Di antaranya pengembangan produk teh telang, teh daun kelor, serta jeruk pamelo yang diolah dan dikemas menjadi minuman khas.

Berbagai inovasi tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat tumbuh dari potensi yang tersedia di lingkungan sekitar. Produk lokal tidak hanya memiliki nilai konsumsi, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi bagian dari aktivitas ekonomi keluarga apabila dikelola secara kreatif dan berkelanjutan.

Pengembangan potensi lokal tersebut juga sejalan dengan isu strategis Rakernas X TP PKK Tahun 2026 yang menekankan pentingnya mendorong keluarga dan masyarakat agar semakin kreatif, mandiri, serta mampu mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki.

Sementara itu, Pokja II TP PKK Kabupaten Bojonegoro, Sri Qomariyah, memberikan edukasi mengenai pentingnya pengelolaan sampah secara menyeluruh.

Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa pengelolaan sampah bukan hanya persoalan membuang sampah pada tempatnya. Lebih dari itu, masyarakat perlu mengetahui jenis sampah dan bagaimana sampah tersebut diperlakukan sejak dari sumbernya.

Sampah dapat dikategorikan antara lain sebagai sampah organik, anorganik, residu, serta sampah bahan berbahaya dan beracun (B3). Masing-masing memiliki karakteristik dan metode penanganan yang berbeda.

Pemilahan sampah perlu dilakukan sejak dari sumbernya. Dengan mengetahui jenis sampah, masyarakat dapat menentukan mana yang dapat dimanfaatkan kembali, didaur ulang, maupun yang harus masuk sebagai sampah residu,” jelas Sri.

Pemahaman tersebut menjadi penting karena keberhasilan pengelolaan sampah pada dasarnya dimulai dari rumah tangga. Semakin baik proses pemilahan dilakukan sejak awal, semakin besar peluang sampah bernilai ekonomi untuk dimanfaatkan dan semakin sedikit sampah yang berakhir sebagai residu.

Kegiatan Kunjungan Kerja Terpadu dan Pembinaan Administrasi TP PKK Kabupaten Bojonegoro kemudian dilanjutkan dengan kunjungan lapangan.

Rombongan meninjau pos pengumpulan sampah Desa Semenkidul serta komunitas arisan sampah MAPAK (Emak-emak Berdampak). Rombongan juga mengunjungi sekolah, melihat pengembangan GAYATRI, menyambangi warga penyandang disabilitas di desa setempat, serta meninjau kebun jeruk pamelo.

Rangkaian kunjungan tersebut memberikan gambaran mengenai bagaimana pemberdayaan keluarga dapat bergerak melalui berbagai sektor secara bersamaan. Lingkungan, kesehatan, pendidikan, ekonomi, pangan, hingga kepedulian sosial ditempatkan sebagai bagian yang saling berkaitan dalam membangun ketahanan keluarga.

Melalui kegiatan tersebut, TP PKK Kabupaten Bojonegoro berharap berbagai praktik baik yang telah tumbuh di Desa Semenkidul tidak berhenti sebagai inovasi lokal.

Sebaliknya, praktik tersebut diharapkan dapat terus dikembangkan, diperkuat, dan menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Kabupaten Bojonegoro.

Sinergi antara PKK, pemerintah desa, kader, dan masyarakat menjadi kunci agar gerakan pemberdayaan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan menghasilkan perubahan nyata. Dengan kerja berbasis data, penguatan potensi lokal, serta dorongan terhadap kemandirian keluarga, PKK diharapkan semakin mampu menjadi bagian dari gerakan pembangunan masyarakat sekaligus mendukung keberhasilan program prioritas Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.

Share :