Home Daerah

TPS 3R Srawung Makmur Diresmikan, Bojonegoro Perkuat Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

by Media Rajawali - 25 September 2026, 19:56 WIB

  • Oleh : Budi Hartono 

BOJONEGORO – Persoalan sampah di Kabupaten Bojonegoro tidak lagi ditempatkan semata sebagai urusan kebersihan, tetapi mulai diarahkan menjadi bagian dari gerakan sosial, lingkungan, sekaligus penguatan ekonomi masyarakat. Pendekatan tersebut salah satunya diwujudkan melalui peresmian Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) Srawung Makmur di Desa Trucuk, Kecamatan Trucuk, Kamis (24/9/2026).

Fasilitas tersebut merupakan bagian dari program pengelolaan sampah terpadu yang dikembangkan melalui kolaborasi ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), pemerintah desa, masyarakat, serta sejumlah pihak pendamping. Kehadiran TPS 3R diharapkan mampu memperkuat sistem pengelolaan sampah dari tingkat sumber sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk memperoleh manfaat ekonomi dari sampah yang selama ini lebih banyak dipandang sebagai persoalan lingkungan.

Kepala Desa Trucuk, Sunoko, mengatakan keberadaan fasilitas tersebut merupakan hasil dari proses yang dibangun secara bertahap melalui komunikasi dengan masyarakat dan dukungan berbagai pihak. Sebelumnya, persoalan sampah menjadi salah satu tantangan yang cukup sulit ditangani pemerintah desa.

Menurut Sunoko, gagasan pengembangan pengelolaan sampah kemudian diperkuat melalui penyusunan proposal dan komunikasi dengan pihak terkait. Dukungan yang diberikan akhirnya memungkinkan Desa Trucuk memiliki fasilitas pengolahan sampah yang dapat dikelola secara lebih terorganisasi.

Bantuan dan fasilitas ini tidak boleh berhenti sampai di sini. Harapannya program ini terus berjalan, berkembang, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengelolaan sampah tidak seharusnya berhenti pada satu desa. Kolaborasi antardesa dinilai penting untuk memperluas jangkauan pengelolaan sekaligus membangun sistem yang lebih terintegrasi, sehingga persoalan sampah dapat ditangani secara lebih efektif dan berkelanjutan.

External Engagement & Socioeconomic Manager ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), Tezhart Elvandiar, mengatakan persoalan sampah merupakan tantangan bersama yang membutuhkan keterlibatan lintas sektor. Karena itu, pembangunan TPS 3R tidak hanya dipandang sebagai penyediaan infrastruktur, melainkan bagian dari upaya membangun kesadaran dan kapasitas masyarakat.

Peresmian TPS 3R Srawung Makmur, menurut dia, menjadi momentum untuk memperkuat semangat gotong royong antara pemerintah, masyarakat, organisasi masyarakat, dan sektor swasta dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang mampu berjalan secara mandiri.

Dukungan ExxonMobil Indonesia terhadap program pengelolaan sampah tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak sepanjang periode 2025–2026. Program tidak hanya diarahkan pada pembangunan sarana dan prasarana, tetapi juga mencakup peningkatan kapasitas masyarakat serta penguatan sistem kelembagaan agar kegiatan pengelolaan sampah tetap berlangsung setelah dukungan program berakhir.

Dalam pelaksanaannya, program tersebut telah menjangkau lebih dari 1.200 rumah tangga dan melibatkan sekitar 350 anggota kelompok pengelola sampah. Keterlibatan masyarakat juga diperkuat melalui pengurus RT dan RW di lingkungan setempat.

Partisipasi perempuan turut menjadi bagian dari gerakan tersebut. Lebih dari 20 perempuan terlibat dalam kelompok arisan sampah yang secara bersama-sama telah mengumpulkan lebih dari 120 ton sampah untuk dikelola. Selain memberikan manfaat lingkungan, aktivitas tersebut juga menghasilkan nilai ekonomi yang kemudian dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan sosial dan lingkungan.

Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, mengapresiasi dukungan ExxonMobil dalam pembangunan fasilitas pengolahan sampah di Desa Trucuk. Namun, ia mengingatkan bahwa keberadaan fasilitas tidak dengan sendirinya menyelesaikan persoalan sampah apabila tidak diikuti perubahan perilaku masyarakat.

Baca juga:

Kalau kita bicara tentang sampah, sebetulnya ini keseharian. Setiap hari kita selalu berjumpa dengan sampah,” kata Setyo Wahono.

Menurutnya, sampah merupakan konsekuensi dari aktivitas manusia sehari-hari. Karena itu, pendekatan penyelesaiannya harus dimulai dari kebiasaan masyarakat dalam memperlakukan sampah sejak dari rumah.

Setyo Wahono juga menilai sampah tidak selalu harus diposisikan sebagai beban. Dengan sistem pengelolaan yang tepat, sampah dapat dipilah, diolah, dan dimanfaatkan kembali sehingga memiliki nilai ekonomi. Dalam konteks tersebut, TPS 3R Srawung Makmur diharapkan tidak hanya menjadi tempat pengolahan sampah, tetapi berkembang sebagai bagian dari ekosistem ekonomi masyarakat.

Pemkab Bojonegoro juga menekankan pentingnya pendampingan secara berkelanjutan. Program yang telah dibangun, kata dia, harus tetap berjalan meskipun dukungan awal telah selesai. Organisasi nonpemerintah seperti Alas Institute dinilai dapat mengambil peran dalam memberikan pendampingan, membangun motivasi, dan memperkuat kapasitas masyarakat.

Jangan sampai setelah program ini selesai, ya selesai. Saya minta pendampingan dan tanggung jawab bersama ini terus berjalan,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa keberhasilan konsep Reduce, Reuse, Recycle (3R) pada akhirnya sangat ditentukan oleh perubahan budaya masyarakat. Reduce berarti mengurangi penggunaan barang yang berpotensi menjadi sampah, reuse dengan menggunakan kembali barang yang masih layak, sedangkan recycle dilakukan melalui proses pemilahan dan pengolahan agar sampah dapat kembali memiliki manfaat.

Yang harus kita tekankan adalah perilakunya dan masalah budayanya. Dalam proses pengelolaan 3R ini yang perlu kita bangun adalah budaya dan kebiasaan, baru kemudian memilih atau memilah,” ujarnya.

Perubahan tersebut, lanjutnya, dapat dimulai dari lingkungan paling dekat. Kebiasaan sederhana seperti mengurangi sampah dari sumbernya, memilah berdasarkan jenis, memanfaatkan kembali barang yang masih dapat digunakan, hingga tidak membuang sampah sembarangan merupakan fondasi penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Tantangan yang dihadapi Bojonegoro tergambar dari volume sampah yang diproduksi setiap hari. Dalam kesempatan tersebut disebutkan bahwa produksi sampah di Kabupaten Bojonegoro mencapai sekitar 368 ton per hari. Besarnya volume tersebut menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan sampah membutuhkan sistem yang tidak hanya bertumpu pada pemerintah, tetapi juga melibatkan rumah tangga, komunitas, dunia usaha, dan organisasi masyarakat.

TPS 3R Srawung Makmur di Desa Trucuk kemudian diharapkan dapat berkembang sebagai salah satu model pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Bojonegoro. Keberhasilan fasilitas tersebut tidak hanya akan diukur dari kemampuan mengurangi volume sampah, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat mampu menjaga keberlangsungannya dan mengubah sampah menjadi sumber manfaat.

Fasilitas yang hari ini diberikan ExxonMobil saya harapkan bisa berlanjut dan dimanfaatkan secara ekonomis serta berkelanjutan,” ujar Setyo Wahono.

Dengan demikian, peresmian TPS 3R Srawung Makmur menjadi lebih dari sekadar penambahan fasilitas pengelolaan sampah. Di dalamnya terdapat upaya membangun kebiasaan baru, memperkuat partisipasi masyarakat, menciptakan nilai ekonomi, sekaligus menempatkan persoalan lingkungan sebagai tanggung jawab bersama.

Kolaborasi pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan organisasi pendamping diharapkan mampu memastikan sistem tersebut tidak berhenti sebagai sebuah proyek, melainkan tumbuh menjadi gerakan yang hidup dan berkelanjutan dari tingkat rumah tangga hingga komunitas.

Share :