- Oleh : Budi Hartono
BOJONEGORO — Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Muhammadiyah Bojonegoro menggelar yudisium bagi 98 mahasiswa yang telah menuntaskan seluruh tahapan pendidikan akademiknya. Prosesi tersebut berlangsung di Ruang Angling Dharma, Gedung Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Sabtu (15/8/2026).
Yudisium menjadi penanda penting bagi para mahasiswa bahwa satu fase perjalanan akademik telah mereka selesaikan. Namun, di balik capaian tersebut, terbentang tanggung jawab baru untuk membawa pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai pendidikan ke tengah masyarakat.
Sebanyak 98 mahasiswa yang mengikuti yudisium berasal dari empat program studi, yakni Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), serta Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI).
Momentum tersebut tidak hanya menjadi seremoni akademik, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi para lulusan sebelum memasuki kehidupan profesional dan pengabdian di tengah masyarakat.
Ketua PGRI Kabupaten Bojonegoro, Muh. Khuzaini, dalam sambutannya mengingatkan bahwa keberhasilan menyelesaikan pendidikan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari pengabdian yang lebih luas.
Semoga ilmu yang diperoleh bisa bermanfaat. Ini adalah awal untuk pengabdian kepada masyarakat,” tuturnya.
Menurut Khuzaini, seorang lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya mengandalkan gelar akademik. Ilmu yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya keikhlasan dalam menjalankan pengabdian. Bagi Khuzaini, pengetahuan yang dibagikan kepada orang lain dengan niat yang baik memiliki nilai yang jauh melampaui pencapaian akademik semata.
Harus senantiasa ikhlas dalam mengabdi. Ilmu yang kita berikan bisa menjadi jariyah,” ujarnya.
Baca juga:
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat agar para lulusan STIT Muhammadiyah Bojonegoro mampu menempatkan pendidikan sebagai instrumen untuk membangun kehidupan sosial yang lebih baik. Kompetensi akademik, menurutnya, perlu berjalan beriringan dengan kepedulian, integritas, serta kemauan untuk berkontribusi.
Sementara itu, Ketua STIT Muhammadiyah Bojonegoro, Arif Susanto, menegaskan bahwa gelar akademik tidak semata-mata menjadi simbol keberhasilan seseorang dalam menyelesaikan pendidikan.
Gelar tersebut, kata dia, justru membawa konsekuensi berupa tanggung jawab untuk mengamalkan ilmu yang telah dipelajari dan menghadirkan manfaat dalam kehidupan bermasyarakat.
Dengan demikian, proses pendidikan yang telah ditempuh para mahasiswa diharapkan tidak berhenti pada ruang-ruang akademik. Pengetahuan tersebut harus diterjemahkan menjadi karya, pelayanan, dan pengabdian yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Dari sisi mahasiswa, momen yudisium juga menjadi ruang untuk mengenang perjalanan panjang selama menempuh pendidikan di STIT Muhammadiyah Bojonegoro.
Perwakilan mahasiswa, Novi Nur Laili Muhibah, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan pendampingan selama proses pendidikan berlangsung.
Menurutnya, STIT Muhammadiyah Bojonegoro bukan hanya menjadi tempat untuk memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga menjadi ruang pembentukan diri bagi mahasiswa.
Saya tidak hanya sekadar menuntut ilmu, tetapi di STIT menjadi tempat kami untuk bertumbuh,” ungkap Novi.
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa perjalanan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan pencapaian nilai dan kelulusan. Lebih dari itu, perguruan tinggi menjadi ruang bagi mahasiswa untuk membangun karakter, memperluas wawasan, mengembangkan kemampuan, serta mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah menyandang gelar akademik.
Yudisium 98 mahasiswa STIT Muhammadiyah Bojonegoro akhirnya menjadi sebuah titik temu antara capaian dan tanggung jawab. Satu tahapan pendidikan telah ditutup, sementara perjalanan baru sebagai insan terdidik di tengah masyarakat segera dimulai.
Para lulusan diharapkan mampu menjadikan ilmu yang diperoleh selama berada di bangku kuliah sebagai bekal untuk berkarya sekaligus memberikan kontribusi nyata. Sebab, pada akhirnya, nilai sebuah pendidikan tidak hanya tercermin dari gelar yang disandang, tetapi juga dari seberapa jauh ilmu tersebut mampu memberi manfaat bagi sesama.